
Seorang pegawai bank Cina menghitung uang kertas 50 yuan baru dengan mesin penghitung uang di sebuah konter bank di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, pada 30 Agustus 2019.
Dana Moneter Internasional (IMF) melalui rilis pada 20 Januari 2020 menyebutkan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini diperkirakan mencapai 6 persen. Angka tersebut turun dari 6,1 persen pada 2019 dan diprediksi terus melambat menjadi 5,8 persen pada 2021.
Prediksi senada datang dari Bloomberg. Menurut proyeksi dari Bloomberg, pada kuartal pertama 2020, perekonomian China hanya akan tumbuh 4,5 persen. Jika benar, angka ini merupakan yang terendah semenjak tahun 1992.
Perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi China tersebut di bawah capaian kinerja ekonomi China pada 2018. Saat itu, produk domestik bruto (PDB) China pada 2018 menembus angka 90 triliun yuan atau senilai 13,4 triliun dollar AS.
Pada periode yang sama, ekonomi China tumbuh 6,6 persen. Bahkan di antara lima kekuatan ekonomi terbesar dunia, termasuk Amerika Serikat, pertumbuhan China merupakan yang paling tinggi. China menyumbang hampir 30 persen bagi pertumbuhan ekonomi global.
Prediksi melambatnya pertumbuhan ekonomi China bersamaan dengan merebaknya wabah penyakit yang dipicu virus korona baru atau Covid-19. Tingkat persebarannya yang begitu cepat turut menebar kekhawatiran pelaku usaha. Sejauh mana Covid-19 memengaruhi ekonomi China?

Suasana di salah satu sudut kota Wuhan, China, yang direkam oleh Ita Kurniawati, mahasiswa asal Aceh yang tinggal di Wuhan, Minggu (26/1/2020). Pasca-merebaknya virus korona jenis baru, suasana kota itu sepi karena warga membatasi aktivitas di luar.
Manufaktur
Di China, aktivitas di beberapa kota besar, terutama Wuhan yang menjadi tempat pertama virus Covid-19 ditemukan, ikut terganggu. Mulai dari sekolah, perdagangan, manufaktur, hingga transportasi dibekukan untuk meminimalkan penularan.
Ratusan pabrik dari perusahaan-perusahaan di Wuhan terpaksa ditutup. Akibatnya, rantai produksi mereka pun terputus. Menurut catatan Bloomberg, di Wuhan terdapat lebih kurang 515 industri, mayoritas di sektor manufaktur.
Beberapa di antaranya adalah 146 industri otomotif, 68 perusahaan komputer, 47 industri perangkat listrik, 32 industri produk konsumen, dan 222 perusahaan dari berbagai jenis industri lain.
Tentu saja, terganggunya rantai produksi mereka akan berdampak langsung pada keadaan perusahaan mereka walaupun mereka memiliki kantor pusat di negara lain.
Robert Bosch GmbH, pembuat suku cadang mobil terbesar di dunia, harus menutup dua pabrik yang mempekerjakan total 800 orang di Wuhan. Pabrikan suku cadang mobil lainnya, termasuk Honda Motor Co Ltd dan Nissan Motor Co Ltd, juga telah menutup fasilitas mereka di Wuhan.
Menurut paparan dari S&P Global Rating, wabah virus Covid-19 ini diperkirakan akan memangkas produksi manufaktur China hingga 15 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Selain manufaktur, gejolak perekonomian China juga datang dari sektor pariwisata. Merebaknya virus korona jenis baru tersebut praktis membuat penduduk di China mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan. Terutama setelah Pemerintah China mengeluarkan imbauan untuk tidak keluar dari rumah jika tidak diperlukan. China bahkan mengisolasi tiga kota di Provinsi Hubei, yaitu Wuhan, Huanggang, dan Ezhou, sejak 23 Januari 2020.
pada saat bersamaan, imbauan tidak melakukan perjalanan bertepatan dengan masa libur tahun baru Imlek. Akibatnya, sejumlah warga China di beberapa tempat harus membatalkan perjalanannya karena takut tertular virus tersebut. Padahal, diperkirakan ada 2,9 miliar warga China yang mudik Imlek tahun ini.
Tidak hanya secara lokal, potensi berkurangnya perjalanan saat liburan Imlek juga terjadi secara global. Dalam rentang waktu September 2018 hingga September 2019 saja, China menyumbang lebih dari 173 juta perjalanan wisata ke seluruh dunia.
Pelancong dari China ini pun tak segan membelanjakan uangnya saat melaksanakan liburan. Pada rentang waktu yang sama, mereka menghabiskan lebih dari seperempat triliun dollar AS saat melancong.
Baca juga : Mudik Imlek di Tengah Merebaknya Virus Korona
Jumlah ini melebihi turis dari negara mana pun di dunia. Praktis, perusahaan yang berusaha di bidang pariwisata dan jasa transportasi yang biasa mendulang untung pada masa tahun baru Imlek ini sangat terpukul.
Berkurangnya berbagai aktivitas perekonomian di China pun menjalar hingga ke bursa saham dan nilai kurs yuan. Walau telah menunjukkan gejala membaik, komposit saham Shanghai (SHCOMP) merosot hingga di bawah angka 2.800 atau mengalami penurunan sekitar 7,7 persen pada awal Februari 2020.
Tidak hanya itu, Indeks Komponen Shenzen (SZSE) juga mengalami penurunan dari angka 10.681,90 pada 23 Januari 2020 menjadi 9.779,67 pada 3 Februari 2020.

Suasana di salah satu kafe di lantai II Pelabuhan Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (15/2/2020). Sejak wabah virus korona merebak, jumlah pengunjung pelabuhan yang datang dan berangkat ke Singapura dan Malaysia berkurang hingga 40 persen. Kondisi ini turut berdampak pada aktivitas jual beli di tenant pelabuhan.
Upaya meredam
Pemerintah China sadar betul akan potensi bahaya ekonomi akibat dampak dari virus Covid-19. Mulai Senin (10/2/2020), Pemerintah China mengucurkan dana segar sebesar 1,2 triliun yuan ke sistem keuangan negaranya.
Kebijakan ini merupakan suntikan dana dalam satu waktu yang terbesar dalam sejarah China. Dengan melakukan langkah tersebut, diharapkan likuiditas dalam sistem perbankan dapat dipastikan cukup dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar yuan terhadap dollar AS.
Selain itu, Pemerintah China juga mengumumkan akan melakukan langkah ekonomi lain dalam menghadapi gempuran virus korona baru. Salah satunya adalah menyediakan 300 miliar yuan kepada bank-bank di China untuk dipinjamkan dengan bunga relatif rendah.
Hal ini karena virus korona baru memukul para pelaku industri di China, terutama yang berskala kecil dan menengah. Maka, dengan adanya dorongan dari pinjaman ini, pebisnis yang sekarat bisa kembali memantik aktivitas bisnisnya setelah wabah virus korona baru membaik.
Menurut paparan dari S&P Global Rating, wabah virus Covid-19 ini diperkirakan akan memangkas produksi manufaktur China hingga 15 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Bank Sentral China (PBoC) juga menurunkan suku bunga revers repo pada 3 Februari 2020. Tingkat reverse repo untuk tenor tujuh hari dan 14 hari diturunkan 10 basis poin.
Terbaru, Bank Sentral China mendisinfeksi dan mengisolasi uang kertas bekas sebagai bagian dari upaya untuk menghentikan penyebaran virus korona yang telah menewaskan lebih dari 1.500 orang.
Bank menggunakan sinar ultraviolet atau suhu tinggi untuk mensterilkan uang yuan, kemudian menyegel dan menyimpan selama 7 hari hingga 14 hari. Rentang penyegelan bergantung pada tingkat keparahan wabah di wilayah tertentu sebelum didistribusikan kembali.
Indonesia
Bukan hanya di dalam negeri China, dampak ekonomi dari virus Covid-19 juga menimbulkan kekhawatiran di tingkat global. Menurut penelitian dari Bank Dunia, pandemik dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga 5 persen dari PDB dunia atau berkisar 3 triliun dollar AS.
Besarnya potensi kerugian itu merujuk pada dampak sebelumnya, yaitu kerugian akibat flu babi atau virus H1N1 yang dianggap lebih sedikit sebarannya daripada Covid-19. Saat itu, wabah flu babi yang terjadi pada 2009 menyebabkan kerugian hingga 0,5 persen dari PDB dunia.
Baca juga : Pariwisata Tergerus Dampak Virus
Dampak global tersebut menjadi kewaspadaan bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Kontribusi ekspor Indonesia ke China mencapai 16,8 persen atau senilai 37,9 miliar dollar AS. Adapun 74 persen impor asal China berupa bahan baku dan barang modal untuk keperluan industri pengolahan (Kompas 13/2/2020).
Kajian Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan menunjukkan, setiap pertumbuhan ekonomi China berkurang 1 persen, ekonomi Indonesia akan tumbuh melambat 0,23 persen. Apabila mewabahnya virus ini cukup lama, hal itu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio memberikan pengarahan dalam acara ”Kebijakan Pemerintah dalam Menghadapi Imbas Virus Korona” di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Denpasar, Kamis (13/2/2020).
Industri pariwisata Indonesia bisa terkena dampak virus korona baru yang merebak di China. Wisatawan asal China menyumbang 12 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Sepanjang tahun lalu, wisatawan asal China mencapai 2,072 juta kunjungan, kedua terbanyak setelah Malaysia dengan 2,98 juta kunjungan. Menurut data Bank Indonesia, rata-rata wisatawan China yang berkunjung ke Bali menghabiskan uang sekitar Rp 9,7 juta setiap kedatangan pada 2018 (Kompas 4/2/2020).
Merebaknya wabah penyakit yang dipicu virus Covid-19 ini mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020 menetapkannya sebagai darurat kesehatan global. Bagi Indonesia, kondisi darurat tersebut, selain harus diwaspadai dari bertambahnya korban, dampaknya juga pada perekonomian nasional. (LITBANG KOMPAS)
Baca juga : Mengapa Harus Membayar Berita Daring?
Dunia - Terbaru - Google Berita
February 18, 2020 at 07:00AM
https://ift.tt/2HzS7O5
Jurus China Meredam Dampak Ekonomi Korona – Bebas Akses - kompas.id
Dunia - Terbaru - Google Berita
https://ift.tt/2M0nSS7
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Jurus China Meredam Dampak Ekonomi Korona – Bebas Akses - kompas.id"
Post a Comment